Makan tuh cinta, itulah suatu kalimat yang pernah terlontar ketika aku kenal pada calon istriku.
Memang ketika aku mengenalnya, pas dihari ketika aku dipecat. Maka dari itu, aku tidak berani bercinta.
Namun berangkat dai pemikiran ku selama ini, aku berkata :”Nikah yuk”, “Lo, kamu kan nganggur?” jawabnya. Dengan perasaan PD aku menjawab :”Ah, rejeki ditangan Allah!”, “ya udah”
Dengan PD kembali akupun mengajukan ceoltehku kepada sepasang orang tua yang baru aku kenal. Dengan serta merta mereka berkata :”modalnya apa?”, seperti sebuah iklan minuman berenergi : “CINTA”, merke “tertawa” dan berkata :”Makan tuh cinta, emang hidup bisa cuma dengan cinta?” Dengan tanpa mau kalah aku berkata : “Memang tidak bisa hidup hanya dengan cinta, namun kita tidak bisa hidup tanpa cinta!”
Berangkat dari kedua keyakinan itulah kami berusaha menyatukan keyakinan kami, yaitu : “Rejeki ditangan Tuhan dan Makan itu cinta”
Alhamdulillah Tuhan pun ternyat juga tidak mau kalah, 4,5 tahun kemudian keyakinan ku terwujud. di usia muda belia, 25 tahun diriku, dan 24 tahun istriku, kami bersatu. Memang, sewaktu baru menikah, sisa gajiku hanya sekitar 500 rb perbulan, itupun harus membiayai kuliah istriku [kami menikah dan istriku baru masuk kuliah], listrik, dll
Ya tapi karena menu makan kami sehari – hari adalah cinta, maka kami tetap berbahagaia. Walaupun setiap hujan kebocoran, tikus menjadi teman kami, daging hanya kami temui di Taman Mertua Indah, dll. api kami merasa Cintalah yang membuat kami berbahagia.
Jadi MAKAN TUH CINTA, jangan takut nikah jika anda
1. Muda,
2. Pengangguran
3. Kuliah, dll
Karena dengan cinta, dunia ini indah, walaupun anda sakit, miskin, bodoh, dll. Tapi tanpa cinta, anda akan kusam walaupun anda dapat beli segalanya, pandai, sehat, dll