Tafsir Jalalain : al Buruj (QS 085)

 

سورة البروج Al-Buruuj

(Gugusan Bintang)

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 

 

01.      وَالسَّمَاء ذَاتِ الْبُرُوجِ (Demi langit yang mempunyai gugusan bintang) yakni bintang-bintang yang dua belas gugusan, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam surah Al-Furqaan.

02.       وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ(Dan demi hari yang dijanjikan) yaitu hari kiamat.

03.       وَشَاهِدٍ(Dan demi yang menyaksikan) hari Jumat –  وَمَشْهُودٍ(dan yang disaksikan) yakni hari Arafah. Demikianlah menurut penafsiran hadis tentang tiga perkara tersebut; yang pertama adalah hari yang telah dijanjikan, dan yang kedua hari Jumat menyaksikan amal perbuatan yang dikerjakan pada hari itu, serta yang ketiga hari Arafah disaksikan oleh manusia dan para malaikat. Sedangkan yang menjadi Jawab Qasam kalimat permulaannya tidak disebutkan, yaitu, “Sesungguhnya.”

04.       قُتِلَ(Telah dibinasakan) telah dilaknat –  أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ(orang-orang yang memiliki Ukhdud) artinya orang-orang yang menggali parit.

05.       النَّارِ(Yaitu api) lafal An-Naari berkedudukan sebagai Badal Isytimal dari lafal Al-Ukhduud –  ذَاتِ الْوَقُودِ(yang dinyalakan) dengan kayu bakar.

06.       إِذْ هُمْ عَلَيْهَا(Ketika mereka berada di sekitarnya) yaitu berada di sekitar tepi parit-parit itu seraya di atas kursi-kursi –  قُعُودٌ(mereka duduk.)

07.       وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ(Sedangkan mereka terhadap apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman) kepada Allah, menyiksa mereka dengan cara melemparkan mereka ke dalam parit yang penuh dengan api itu, jika mereka tidak mau kembali murtad dari imannya –  شُهُودٌ(menyaksikan) artinya hadir menyaksikan penyiksaan itu. Menurut suatu riwayat, bahwasanya Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman yang dilemparkan ke dalam parit berapi itu, yaitu dengan mencabut nyawa mereka terlebih dahulu sebelum mereka jatuh ke dalam api. Kemudian api itu keluar dari dalam parit dan membakar orang-orang yang berada di sekitarnya, sehingga mereka yang menyaksikan penyiksaan itu mati terbakar.

08.       وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ(Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa) di dalam kerajaan-Nya. –  الْحَمِيدِ(lagi Maha Terpuji) lafal Al-Hamiid bermakna Al-Mahmuud, artinya Maha Terpuji.

09.       الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ(Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu) yakni Dia menyaksikan, bahwa tiadalah orang-orang kafir itu ingkar kepada orang-orang yang beriman melainkan karena orang-orang yang beriman itu beriman kepada Allah.

10.       إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ(Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan) yaitu dengan cara membakar mereka hidup-hidup –  ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ(kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam) disebabkan kekafiran mereka –  وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (dan bagi mereka azab pembakaran) sebagai pembalasan dari pembakaran mereka terhadap orang-orang yang beriman, pembalasan itu kelak akan ditimpakan kepada mereka di akhirat. Tetapi menurut suatu pendapat bahwa azab tersebut terjadi di dunia, umpamanya api tersebut keluar dari paritnya dan langsung mengejar dan membakar mereka, sebagaimana keterangan yang disebutkan di atas.

11.       إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai itulah keberuntungan yang besar.)

12.       إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ(Sesungguhnya Azab Rabbmu) terhadap orang-orang kafir –  لَشَدِيدٌ(benar-benar keras) sesuai dengan kehendak-Nya.

13.       إِنَّهُ هُوَ يُبْدِئُ(Sesungguhnya Dialah yang memulai) penciptaan makhluk –  وَيُعِيدُ(dan yang mengembalikan) makhluk menjadi hidup kembali, maka tiada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi apa yang dikehendaki-Nya.

14.       وَهُوَ الْغَفُور(Dan Dialah Yang Maha Pengampun) kepada orang-orang mukmin yang berbuat dosa –  الْوَدُودُ(lagi Maha Pengasih) yakni Maha Belas Kasih kepada kekasih-kekasih-Nya dengan memberikan karamah kepada mereka.

15.       ذُو الْعَرْشِ(Yang mempunyai Arasy) yakni Yang menciptakan dan Yang memilikinya –  الْمَجِيدُ (lagi Maha Agung) dibaca Rafa’ yakni Al-Majiidu, artinya Yang berhak menyandang kesempurnaan sifat-sifat Yang Maha Tinggi.

16.       فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ(Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya) artinya tiada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi kehendak-Nya.

17.       هَلْ أَتَاكَ(Sudahkah datang kepadamu) hai Muhammad –  حَدِيثُ الْجُنُودِ(berita tentang kaum-kaum penentang.)

18.       فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ(Yaitu kaum Fir’aun dan kaum Tsamud) kedua lafal ini menjadi Badal dari lafal Al-Junuud; dan di sini cukup hanya dengan menyebut nama Firaun saja tanpa menyebut bala tentaranya; adapun Tsamud adalah nama suatu kaum. Kisahnya ialah bahwasanya mereka dibinasakan karena kekafiran mereka. Hal ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang ingkar kepada Nabi saw. dan Alquran, dimaksud supaya mereka mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

19.       بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ(Akan tetapi orang-orang kafir selalu mendustakan) hal-hal yang telah disebutkan tadi.

20.       وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ(Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka) tiada seseorang pun yang dapat menyelamatkan dan menjaga mereka dari azab-Nya.

21.       بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ(Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia) atau yang agung.

22.       فِي لَوْحٍ(Yang dalam Lauh) berada di atas langit yang ketujuh –  مَّحْفُوظٍ(terpelihara) dari ulah setan-setan dan dari sesuatu perubahan. Panjang Lohmahfuz itu sama dengan panjangnya langit dan bumi, sedangkan lebarnya ialah sama dengan jarak antara timur dan barat; terbuat dari intan yang putih bersih. Demikianlah menurut pendapat yang telah dikemukakan oleh Ibnu Abbas r.a.

 

Tafsir Jalalain : al A’laa (QS 087)

 

سورة الأعلى Al A’laa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 

1.      سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ (Sucikanlah nama Rabbmu) maksudnya sucikanlah Dia dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya lafal Ismu adalah lafal Za’id –  الْأَعْلَى(Yang Maha Tinggi) lafal Al-A’laa berkedudukan sebagai kata sifat bagi lafal Rabbika.

2.       الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى(Yang menciptakan lalu menyempurnakan) ciptaan-Nya, yakni Dia menjadikan makhluk-Nya itu seimbang semua bagian-bagiannya dan tidak pincang atau berbeda-beda.

3.       وَالَّذِي قَدَّرَ(Dan Yang menentukan) apa yang dikehendaki-Nya –  فَهَدَى(dan Yang memberi petunjuk) kepada apa yang telah ditentukan-Nya berupa amal kebaikan dan amal keburukan.

4.       وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى(Dan Yang mengeluarkan rumput-rumputan) atau Yang menumbuhkan rumput-rumputan.

5.       فَجَعَلَهُ(Lalu dijadikan-Nya) sesudah rumput-rumputan itu hijau –  غُثَاء(kering) yaitu menjadi layu dan kering –  أَحْوَى(kehitam-hitaman) kehitam-hitaman karena kering.

6.       سَنُقْرِؤُكَ(Kami akan membacakan kepadamu) Alquran –  فَلَا تَنسَى(maka kamu tidak akan lupa) apa yang kamu bacakan itu.

7.       إِلَّا مَا شَاء اللَّهُ(Kecuali kalau Allah menghendaki) kamu melupakannya karena bacaan dan hukumnya telah dinasakh. Sesungguhnya Nabi saw. selalu mengeraskan suara bacaannya mengikuti bacaan malaikat Jibril karena takut lupa. Seolah-olah dikatakan kepadanya, janganlah kamu tergesa-gesa membacanya, karena sesungguhnya kamu tidak akan lupa, karena itu janganlah kamu merepotkan dirimu dengan mengeraskan suaramu sewaktu kamu membacakannya. –  إِنَّهُ(Sesungguhnya Dia) yakni Allah swt. –  يَعْلَمُ الْجَهْرَ(mengetahui yang terang) maksudnya perkataan dan perbuatan yang terang-terangan –  وَمَا يَخْفَى(dan yang tersembunyi) dari keduanya.

8.       وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى(Dan Kami akan memudahkan kamu untuk menempuh jalan yang mudah) yakni syariat yang mudah, yaitu agama Islam.

9.       فَذَكِّرْ(Oleh sebab itu berikanlah peringatan) dengan Alquran –  إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى(karena peringatan itu bermanfaat) maksudnya memberikan peringatan dengan hal-hal yang telah disebutkan pada firman-Nya, “Sayadzdzakkaru,” sekalipun peringatan itu tidak bermanfaat bagi sebagian di antara mereka, tetapi peringatan itu pasti bermanfaat bagi sebagian yang lainnya.

10.   سَيَذَّكَّرُ(Akan mendapat peringatan) dan pelajaran dari peringatan itu –  مَن يَخْشَى(orang yang takut) kepada Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang lain yaitu, firman-Nya, “Maka beri peringatanlah dengan Alquran orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Q.S. Qaaf, 45)

11.   وَيَتَجَنَّبُهَا(Akan menjauhinya) yakni peringatan itu akan ditinggalkan dan diabaikan begitu saja –  الْأَشْقَى(orang yang celaka) yakni orang yang kafir.

12.   الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَى(Yaitu orang yang akan memasuki api yang besar) yaitu api neraka; dan api dunia dinamakan api kecil.

13.   ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا(Kemudian dia tidak mati di dalamnya) hingga ia dapat beristirahat –  وَلَا يَحْيَى (dan tidak pula hidup) dengan kehidupan yang menyenangkan.

14.   قَدْ أَفْلَحَ(Sesungguhnya beruntunglah) atau mendapat keberuntungan –  مَن تَزَكَّى(orang yang membersihkan diri) dengan cara beriman.

15.   وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ(Dan dia ingat nama Rabbnya) seraya mengagungkan-Nya –  فَصَلَّى(lalu dia salat) maksudnya, mengerjakan salat lima waktu, hal ini merupakan perkara akhirat; akan tetapi orang-orang kafir Mekah berpaling daripadanya.

16.   بَلْ تُؤْثِرُونَ(Tetapi kamu sekalian lebih memilih) dapat dibaca Tu’tsiruuna dan Yu’tsiruuna –  الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(kehidupan duniawi) daripada kehidupan ukhrawi.

17.   وَالْآخِرَةُ(Sedangkan kehidupan akhirat) yang di dalamnya terdapat surga –  خَيْرٌ وَأَبْقَى (adalah lebih baik dan lebih kekal.)

18.   إِنَّ هَذَا(Sesungguhnya ini) maksudnya keberuntungan orang-orang yang membersihkan dirinya dengan beriman dan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik –  لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (benar-benar terdapat dalam kitab-kitab terdahulu) yang diturunkan sebelum Alquran.

19.   صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى(Yaitu Kitab-kitab Ibrahim dan Musa) sepuluh shuhuf bagi Nabi Ibrahim, dan satu shuhuf bagi Nabi Musa, yaitu kitab Taurat.

 

Tafsir Jalalain : An Nashr (QS 110)

  1. Apabila telah datang pertolongan Allah – kepada Nabi-Nya atas musuh-musuhnya – dan kemenangan – yakni kemenangan atas kota Mekah.
  2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah – yaitu agama Islam – dengan berbondong-bondong atau secara berkelompok, yang pada sebelumnya hanya secara satu persatu. Hal tersebut terjadi sesudah kemenangan atas kota Mekah, lalu orang-orang Arab dari semua kawasan datang kepada Nabi saw. dalam keadaan taat untuk masuk Islam.
  3. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu – artinya bertasbihlah seraya memuji-Nya – dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat – sesungguhnya Nabi saw. sesudah surah ini diturunkan, beliau selalu memperbanyak bacaan: Subhaanallaah Wa Bihamdihi, Astaghfirullaaha Wa Atuubu Ilaihi, yang artinya: “Maha Suci Allah dengan segala pujian-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.” Dengan turunnya surah ini dapat diketahui bahwa saat ajalnya telah dekat. Peristiwa penaklukan kota Mekah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun delapan Hijriah, dan beliau wafat pada bulan Rabiulawal, tahun sepuluh Hijriah.

Tafsir Jalalain : Al Lahab (QS 111)

  1. Binasalah – atau merugilah – kedua tangan Abu Lahab – maksudnya diri Abu Lahab; di sini diungkapkan dengan memakai kata-kata kedua tangan sebagai ungkapan Majaz, karena sesungguhnya kebanyakan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia itu dikerjakan dengan kedua tangannya; Jumlah kalimat ini mengandung makna doa- dan sesungguhnya dia binasa – artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita; perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: “Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa.” Ketika Nabi saw. menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, “Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku.” Lalu turunlah ayat selanjutnya, yaitu:
  2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan – maksudnya apa yang telah diusahakannya itu, yakni anak-anaknya. Lafal Aghnaa di sini bermakna Yughnii, artinya tidak akan berfaedah kepadanya harta dan anak-anaknya.
  3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak – yang besar nyalanya; kata-kata ini pun dijadikan pula sebagai julukan namanya, karena ia mempunyai muka yang berbinar-binar memancarkan sinar merah api.
  4. Dan begitu pula istrinya – lafal ini di’athafkan kepada Dhamir yang terkandung di dalam lafal Yashlaa, hal ini diperbolehkan karena di antara keduanya terdapat pemisah, yaitu Maf’ul dan sifatnya; yang dimaksud adalah Umu Jamil – pembawa – dapat dibaca Hammalaatun dan Hammaalatan – kayu bakar – yaitu duri dan kayu Sa’dan yang banyak durinya, kemudian kayu dan duri itu ia taruh di tengah jalan tempat Nabi saw. lewat.
  5. Yang di lehernya – atau pada lehernya – ada tali dari sabut – yakni pintalan dari sabut; Jumlah ayat ini berkedudukan menjadi Haal atau kata keterangan dari lafal Hammaalatal Hathab yang merupakan sifat dari istri Abu Lahab. Atau kalimat ayat ini dapat dianggap sebagai Khabar dari Mubtada yang tidak disebutkan.